Minggu, 08 Juni 2008

Sistem Informasi Akuntansi

Resiko dalam SIA berbasis KomputerAkuntansi adalah sistem informasi yang mencatat, mengumpulkan dan mengkomunikasikan data keuangan untuk tujuan pengambilan keputusan. Sistem akuntansi yang efektif memberikan tiga tujuan luas.Pertama, pelaporan internal ke manajer untuk perencanaan dan pengendalian kegiatan rutin.Kedua, pelaporan internal untuk perencanaan strategik, danKetiga untuk pihak eksternal yaitu: pemegang saham, pemerintah dan pihak luar lainnya. Ketiga-tiganya dihasilkan melalui pemrosesan data yang disebut transaksi akuntansi.Pemrosesan data menjadi informasi dapat dilakukan secara manual atau dengan menggunakan peralatan elektronik berupa komputer. Kemajuan dalam teknologi komputer mempunyai dampak yang luar biasa pada seluruh aspek kegiatan usaha. Akuntansi, sudah barang tentu tidak terlepas dari dampak tersebut. Dalam sistem akuntansi manual, data seba¬gai masukan (input) diproses menjadi informasi sebagai keluaran (output) dengan menggunakan tangan. Pada sistem akuntansi yang berkomputer atau yang lebih sering disebut Pemrosesan Data Elektronik (PDE), data sebagai input juga diproses menjadi informasi sebagai output. Keuntungan yang dapat dilihat secara jelas dari penggunaan komputer ini adalah kecepatan, ketepatan, dan kemudahan dalam memproses data menjadi informasi akuntansi.Disamping keuntungan tersebut, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam menggunakan komputer sebagai alat pengolah data yaitu resiko-resiko yang khas dalam suatu lingkungan akuntansi berbasis komputer. Auditor harus menyadari resiko-resiko ini karena hal ini merupakan ancaman yang tidak ada dalam proses akuntansi manual.Resiko-resiko dalam lingkungan pemrosesan data elektronik antara lain:1. Penggunaan Teknologi yang Tidak LayakTeknologi komputer memberi para analis sistem (system analyst) dan pemrogram (programmer) berbagai kemampuan pemrosesan. Teknologi ini harus disesuaikan dengan kebutuhan pemakai untuk mengoptimalkan implementasi kebutuhan tersebut. Kekeliruan dalam penandingan antara teknologi dengan kebutuhan pemakai kebutuhan dapat mengakibatkan pengeluaran yang tidak perlu atas sumberdaya organisasi.Salah satu penyalahgunaan teknologi adalah penggunaan teknologi baru sebelum adanya kepastian yang jelas mengenai kebutuhannya. Banyak organisasi memperkenalkan teknologi database tanpa menetapkan dengan jelas kebutuhan akan teknologi tersebut. Pengalaman menunjukkan bahwa para pemakai awal (new user) suatu teknologi baru seringkali mengkonsumsi jumlah sumberdaya yang cukup besar selama mempelajari cara penggunaan teknologi baru tersebut.Penggunaan teknologi yang tidak layak antara lain:- Analis sistem atau pemrogram tidak mempunyai keahlian yang cukup untuk menggunakan teknologi tersebut.- Pemakai yang awam terhadap teknologi hardware yang baru.- Pemakai yang awam terhadap teknologi software yang baru.- Perencanaan yang minim untuk instalasi teknologi hardware dan software yang baru. {/2. Pengulangan KesalahanDalam pemrosesan manual, kesalahan-kesalahan dibuat secara individual. Jadi seseorang dapat memproses satu pos dengan benar, membuat kesalahan pada pos berikutnya, memproses 20 pos berikutnya dengan benar dan kemudian membuat kesalahan lainnya lagi.Dalam sistem yang terotomatisasi, aturan-aturan diterapkan secara konsisten. Jadi, jika aturan-aturannya benar, pemrosesannya akan selalu benar. Tetapi jika aturan-aturannya salah, pemrosesannya akan selalu salah.Kondisi-kondisi yang mengakibatkan pengulangan kesalahan meliputi:- Tidak cukupnya pengecekan atas pemasukan informasi input.- Tidak cukupnya tes atas program- Tidak dimonitornya hasil-hasil dari pemrosesan3. Kesalahan BerantaiKesalahan berantai merupakan ‘efek domino’ dari kesalahan-kesalahan di segenap sistem aplikasi. Kesalahan suatu bagian program atau aplikasi akan berakibat pada kesalahan kedua yang meskipun tidak berkaitan di bagian lain aplikasi. Kesalahan kedua ini dapat berakibat kesalahan ketiga dan seterusnya.Resiko kesalahan berantai sering dikaitkan dengan pelaksanaan perubahan sistem aplikasi. Perubahan dilaksanakan dan diuji dalam program di mana perubahan terjadi. Namun demikian, beberapa kondisi dapat berubah karena adanya perubahan yang menimbulkan kesalahan di bagian lain sistem aplikasi tersebut.Rantai kesalahan dapat terjadi di antara aplikasi-aplikasi. Resiko ini akan semakin besar sejalan dengan semakin terpadunya aplikasi.4. Pemrosesan yang Tidak LogisPemrosesan yang tidak logis merupakan akibat dari suatu kejadian yang diotomatisasi yang dapat dikatakan sangat tidak mungkin dalam proses manual. Contohnya adalah pembuatan cek untuk gaji dan upah untuk seorang pegawai yang melampaui Rp. 100 juta. Hal ini mungkin saja terjadi dalam sistem yang terotomatisasi yang timbul karena kesalahan pemrograman atau kesalahan hardware, akan tetapi tidak mungkin terjadi dalam sistem manual.Kondisi yang dapat mengakibatkan pemrosesan yang tidak logis adalah karena:- Field-field yang terlalu kecil atupun terlalu besar.- Tidak diceknya nilai-nilai yang cukup besar dan tidak lazim pada dokumen output.- Tidak diamatinya dokumen-dokumen output.5. Ketidakmampuan Menerjemahkan Kebutuhan Pemakai ke Dalam Persyaratan TeknisSalah satu kegagalan utama pengolahan data adalah adanya kegagalan komunikasi antara para pemakai dengan personil teknis. Dalam banyak kasus, para pemakai tak dapat menyatakan dengan baik kebutuhan-kebutuhan mereka dalam cara yang memudahkan proses penyiapan aplikasi komputer. Sebaliknya, orang-orang teknis komputer seringkali tidak mampu menyerap dengan baik kepentingan dan permintaan para pemakainya. Resiko pemuasan kebutuhan ini merupakan resiko yang kompleks.Resiko yang timbul meliputi kegagalan untuk mengimplementasikan kebutuhan karena para pemakai tidak memiliki kemampuan teknis. Dampaknya adalah kebutuhan yang diimplementasikan adalah kebutuhan yang tidak layak karena personil teknis tidak memahami kebutuhan sebenarnya dari pemakai. Akibat lainnya adalah munculnya sistem manual yang semakin besar untuk menutup kelemahan-kelemahan dalam aplikasi komputer.Kondisi ketidakmampuan menerjemahkan kebutuhan pemakai ini disebabkan antara lain:- Para pemakai tidak memiliki keahlian teknis EDP- Orang-orang teknis tidak memiliki pemahaman yang cukup mengenai permintaan pemakai.- Ketidakmampuan untuk merumuskan permintaan dengan cukup terinci.- Sistem yang digunakan oleh banyak ‘user’ tanpa ada ‘user ‘ yang bertanggung jawab atas sistem tersebut.6. Ketidakmampuan dalam Mengendalikan TeknologiPengendalian memang sangat diperlukan dalam penggunaan lingkungan berteknologi. Pengendalian-pengendalian akan menjamin bahwa versi yang tepat berada digunakan pada saat yang tepat; bahwa file-file yang tepat digunakan; bahwa para operator komputer melaksanakan instruksi yang tepat; prosedur yang memadai dikembangkan untuk mencegah, mendeteksi dan memperbaiki permasalahan yang terjadi; dan bahwa data yang tepat disimpan dan kemudian diperoleh dengan mudah jika diperlukan.Kondisi yang menimbulkan teknologi yang tak terkendali mencakup:- Pemilihan kemampuan pengendalian sistem yang ditawarkan oleh rekanan pemrogram sistem yang tanpa memperhatikan kebutuhan audit.-Terlalu banyaknya pengendalian yang dikorbankan demi menjaga efisiensi operasi.Prosedur-prosedur untuk memulai kembali/pemulihan (recovery data) yang tidak memadai.7. Pemasukan Data yang Tidak BenarData dimasukkan dalam berbagai cara. Ada yang sistem batch atau on-line dengan melalui berbagai media input seperti key-to-disk, scanner dan sebagainya. Data input yang salah atau palsu merupakan penyebab yang paling sederhana dan paling lazim dari prestasi yang tidak diinginkan dalam suatu sistem aplikasi.Dikalangan orang-orang yang berkecimpung dalam dunia komputer ada istilah GIGO (Garbage In Garbage Out), artinya bila ada data masukan (input) yang diolah salah maka informasi yang dihasilkan juga akan salahKondisi yang dapat menimbulkan kesalahan pemasukan data, antara lain:- Nilai-nilai data sumber yang tidak layak atau tidak konsisten mungkin tidak dideteksi.- Kesalahan manusiawi dalam mengetik (keying) data atau kesalahan-kesalahan selama transkripsi mungkin tidak dideteksi.- Record data yang tidak lengkap atau diformat secara buruk mungkin diterima seakan-akan record itu lengkap.- Kesalahan mekanis peralatan hardware.- Kesalahan interpretasi karakter-karakter atau pengertian input yang dicatat secara manual.- Kesalahan prosedur pemasukan data.8. Data yang TerkonsentrasiDalam sistem manual, data ditimbun dan disimpan di berbagai tempat, jadi sukar bagi seseorang yang tak berwenang menghabiskan banyak waktu untuk melihat-lihat lemari-lemari arsip atau bidang penyimpanan manual lainnya.Aplikasi yang dikomputerisasi seringkali memusatkan data dalam suatu format yang mudah diakses. Seseorang yang tak berwenang dapat melihat-lihat dengan menggunakan program komputer. Ini akan sulit dideteksi tanpa adanya pengamanan yang memadai. Selain itu, data dapat disalin dengan cepat tanpa meninggalkan jejak yang dapat terlihat atau menghancurkan data orisinilnya. Jadi, pemilik data tidak akan sadar bahwa data tersebut telah dicuri atau dirusak.Teknologi database ternyata telah meningkatkan resiko manipulasi data dan pencurian nilai informasi itu bagi seseorang yang tidak berwenang. Sebagai contoh, informasi mengenai seseorang dalam aplikasi gaji dan upah terbatas pada pembayaran berjalan. Tetapi kalau data tersebut disertai dengan riwayat personil, maka bukan hanya informasi pembayaran berjalan saja yang tersedia akan tetapi juga riwayat pembayaran gaji, keahlian individual, tahun masa kerja, perkembangan pekerjaan dan mungkin juga mengenai evaluasi prestasi.Konsentrasi data meningkatkan permasalahan mengenai reliabilitas (andalnya) data yang lebih besar dari sekadar sekeping data atau sebuah file data saja. Jika fakta yang dimasukkan ternyata salah, semakin banyak aplikasi yang mengandalkan data tersebut, semakin besar dampak kesalahannya. Selain itu, semakin banyak aplikasi yang menggunakan data yang terkonsentrasi, semakin besar dampaknya jika data tersebut hilang karena problem yang terjadi pada hardware atau software yang digunakan untuk memroses data tersebut.Kondisi yang dapat menimbulkan permasalahan akibat konsentrasi data mencakup:- Tidak memadainya pengendalian akses yang memungkinkan akses yang tidak berwenang ke data.- Data yang salah dan dampaknya terhadap pemakai data tersebut.- Dampak gangguan-gangguan hardware dan software yang menyediakan data bagi para pemakai.9. Ketidakmampuan dalam Mendukung PemrosesanAplikasi yang dikomputerisasi harus memiliki kemampuan untuk mendukung pemrosesan. Dukungan ini meliputi baik kemampuan untuk merekonstruksi pemrosesan suatu transaksi saja maupun kemampuan untuk merekonstruksi total pengendalian. Aplikasi-aplikasi yang dikomputerisasi harus dapat menghasilkan semua sumber transaksi yang mendukung pengendalian menyeluruh. Tujuannya adalah untuk tujuan perbaikan kesalahan dan pembuktian kebenaran pemrosesan. Kalau terjadi kesalahan, personil komputer harus menunjukkan penyebab kesalahan itu sehingga penyebab-penyebab itu dapat diperbaiki. Auditor seringkali memverifikasi kebenaran pemrosesan, yaitu apakah pemrosesan data telah benar.Kondisi yang dapat mengakibatkan timbulnya ketidakmampuan untuk penyediaan pendukung pemrosesan antara lain:- Bukti pendukung tidak disimpan cukup lama- Biaya untuk mendukung pemrosesan melebihi manfaat yang dapat diperoleh dari proses.10. Penyalahgunaan Pemakai Akhir (End User)Sistem aplikasi didesain untuk melayani pemakai akhir, tetapi mereka juga dapat menyalahgunakan untuk tujuan-tujuan yang tidak diinginkan. Seringkali sangat sulit menentukan apakah pengguanaan sistem tersebut sesuai dengan pelaksanaan masing-masing pekerjaan mereka yang sah.Seorang karyawan mungkin mengubah informasi untuk penggunaan tidak sah; misalnya, ia mungkin menjual data rahasia mengenai informasi kepada perusahaan lain atau pesaing. Atau ia dapat menggunakan sistem untuk kepentingan pribadinya. Atau karyawan yang tidak puas atau yang dipecat mungkin merusak atau mengubah record – sedemikian rupa, sehingga record-record pendukungnya juga rusak dan tidak berguna.11. Kesalahan Prosedur pada Fasilitas EDPBaik kesalahan maupun tindakan yang tak sengaja dilakukan oleh staf operasi EDP dapat menimbulkan prosedur-prosedur yang tidak tepat dan pengendalian yang terlambat dan mungkin kehilangan-kehilangan dalam media penyimpanan dan output.Contohnya antara lain:- File-file mungkin rusak selama reorganisasi database atau selama membersihkan ruang disk.- Pemeliharaan hardware mungkin dilakukan sementara data tengah berada dalam posisi on-line.- Suatu program mungkin dilaksanakan dua kali dengan menggunakan sebuah transaksi yang sama.- Pengawasan personel operasi yang tidak memadai selama pergantian jam istirahat.- File-file atau disk yang penting mungkin disusun tanpa adanya penulisan yang dilindungi atau label yang gampang terhapus.{/slide}{slide=12. Kesalahan-kesalahan program}Meskipun program dirancang dan dikembangkan melalui prosedur yang pengujian dan review yang memadai namun demikian masih mungkin akan berisikan kesalahan yang tidak memadai. Selain itu para pemrogram dapat dengan sengaja memodifikasi program untuk menghasilkan pengaruh sampingan yang tidak diinginkan, atau mereka dapat menyalahgunakan program yang menjadi tanggungjawab mereka.Contohnya antara lain:- Record-record mungkin dihapus dari file penting tanpa ada jaminan bahwa record yang dihapus tersebut dapat direkonstruksi kembali.- Para pemrogram mungkin menyelipkan perintah tertentu dalam program yang dapat memanipulasi data untuk kepentingan mereka sendiri.- Perubahan-perubahan program tidak diuji dengan cukup memadai sebelum digunakan dalam pelaksanaan produksi.- Perubahan program dapat menimbulkan kesalahan baru karena adanya interaksi yang tak terduga diantara modul-modul program.- Program tidak mampu mendeteksi kesalahan-kesalahan yang terjadi hanya untuk kombinasi input yang tidak lazim ( mis. program yang diharapkan dapat menolak semua nilai kecuali rentang nilai tertentu ternyata dapat menerima nilai tambahan).- Para pemrogram mungkin tidak menyediakan suatu log (catatan perubahan) atau salinan pendukung untuk memformalisasikan aktivitas aplikasi.{/slide}{slide=13. Kerusakan sistem komunikasi.}Informasi yang dikirim atau disebarkan dari satu lokasi ke lokasi lainnya melalui jalur komunikasi adalah rawan terhadap kerusakan yang tidak sengaja atau penyadapan serta modifikasi dengan sengaja oleh pihak yang tidak berwenang.Kerusakan yang tidak sengaja:- Kesalahan komunikasi yang tidak dideteksi dapat menghasilkan data yang tidak benar atau berubah.- Informasi mungkin tak sengaja diarahkan ke terminal yang salah.- Sinyal komunikasi mungkin meninggalkan penggalan-penggalan pesan yang tak terlindungi dalam memori selama interupsi pemrosesan yang tidak terduga atau tiba-tiba.- Protocol komunikasi mungkin tidak mengidentifikasi secara positif pengirim atau penerima pesan.Tindakan-tindakan yang disengaja:- Jalur komunikasi mungkin dipantau oleh orang-orang yang tidak berwenang.- Data atau program mungkin dicuri oleh ‘pemakai gelap’ melalui sirkuit telepon dari suatu terminal entri jarak jauh.- Jika digunakan sandi, kunci-kuncinya mungkin dicuri.- Pesan-pesan palsu mungkin diselipkan ke dalam sistem aplikasi.- Pesan-pesan benar mungkin dihapus dari dalam sistem aplikasi.Adanya kelemahan-kelemahan seperti tersebut diatas, pengendalian akuntansi sangat diperlukan dalam Pengolahan Data Elektronik (PDE). Pengolahan data elektronik adalah pengolahan data yang menggunakan komputer. Pengendalian akuntansi ini bertujuan untuk menghasilkan informasi yang dapat dipercaya. Pengendalian akuntansi mempunyai tujuan utama menga¬mankan harta kekayaaan perusahaan dan menjamin kebenaran data serta ketepatan data akuntansi.
Sebelum melaksanakan metodologi pengembangan sistem, maka perlu pemahaman terhadap kebijakan dan sekumpulan hal-hal mendasar yang menjadi keyakinan manajemen suatu organisasi terhadap sistem informasi. Kebijakan ini berkaitan dengan filosofi manajemen, dan sistem informasi yang proaktif.Secara umum ada dua filosofi yang dapat digunakan dalam pengembangan sistem informasi organisasi, yaitu dipandang sebagai senjata pertahanan taktik dan senjata ofensif strategik. Pertama, sistem informasi dipandang sebagai senjata pertahanan taktik dan operasional untuk menentukan basic data, kebutuhan pemrosesan dan kewajiban pelaporan untuk membantu perusahaan tetap pada jalur yang harus dilalui dan bertahan hidup. Kedua, sistem informasi akuntansi dipandang sebagai senjata ofensif yang strategik untuk dapat memenangkan persaingan. Kebijakan sistem informasi yang proaktif akan menghilangkan pemisah antara departemen, personalia dan fungsi garis, serta menghilangkan batas wilayah negara. Kebijakan sistem informasi proaktif mengakui penerapan teknologi informasi, sepertitelekomunikasi, komputer, electronic mail, computer-integrated manufacturing, teleshopping, teleconference, multifunctional workstations secara terintegrasi.Tujuan sistem informasi dan kebutuhan informasi yang didefinisikan secara jelas adalah salah satu kunci untuk suksesnya sistem informasi. Kesuksesan suatu sistem membutuhkan tujuan-tujuan yang terdefinisikan. Suatu sistem dengan tujuan tertentu akan menyelesaikan lebih banyak untuk suatu organisasi, daripada sistem tanpa tujuan, sedikit tujuan, atau tujuan yang ambisius (Calliueot and Lapayre, 1992).Calliueot and Lapayre (1992) menyatakan bahwa penciptaan suatu informasi efektif membutuhkan suatu pengorganisasian untuk mengembangkan sejumlah sistem-sistem pendukung. Penarikan staf yang kompeten dan layak adalah suatu tindakan yang sangat penting. Investasi yang besar dalam perangkat keras, perangkat lunak dan pendukung sistem yang lain adalah sesuatu yang penting, namun tanpa manusia bersumber daya yang kompeten untuk mengkoordinasikan sistem akan menghasilkan informasi yang tidak layak, tidak tepat waktu atau tidak akurat.
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kinerja Sistem Informasi Akuntansi pada Bank Umum Pemerintah di Wilayah Surabaya dan Sidoarjo
Penelitian ini telah Dipresentasikan pada Seminar Nasional Ilmu Komputer dan Teknologi Informasi (SNIKTI) 2007 di Universitas Indonesia - Jakarta (29 - 30 Januari 2007)Penelitian ini mempunyai tujuan untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang dapat meningkatkan kinerja Sistem Informasi Akuntansi (SIA) yang digunakan dalam perusahaan jasa khususnya perbankan. Berdasarkan pengujian yang telah dilakukan pada penelitian ini diperoleh bukti bahwa dari delapan ( faktor yang mempengaruhi kinerja SIA, yaitu keterlibatan pemakai dalam pengembangan sistem, kemampuan teknik personal Sistem Informasi (SI), ukuran organisasi, dukungan manajemen puncak, formalisasi pengembangan SI, program pelatihan dan pendidikan pemakai, keberadaan dewan pengarah SI dan lokasi dari departement SI, hanya faktor dukungan manajemen puncak yang mempunyai hubungan signifikan terhadap kinerja SIA terutama pada atribut kepuasan pemakai.Ringkasan dari penelitian ini adalah sebagai berikut: Pertama, pengujian yang dilakukan pada faktor keterlibatan pemakai dalam proses pengembangan sistem menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara keterlibatan pemakai dalam proses pengembangan sistem dengan kinerja SIA baik itu dari atribut kepuasan pemakai dan pemakaian sistem. Pengujian yang dilakukan pada faktor kemampuan teknik personal menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara kemampuan teknik personal dengan kinerja SIA baik itu dari atribut kepuasan pemakai dan pemakaian sistem.Kedua, pengujian yang dilakukan pada faktor ukuran organisasi menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara ukuran organisasi dengan kinerja SIA baik itu dari atribut kepuasan pemakai dan pemakaian sistem. Ketiga, pengujian yang dilakukan pada faktor dukungan manajemen puncak menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara dukungan manajemen puncak dengan kinerja SIA untuk atribut kepuasan pemakai. Tetapi dukungan manajemen puncak menunjukkan tidak terdapat hubungan yang signifikan dengan kinerja SIA untuk atribut pemakaian system.Keempat, pengujian yang dilakukan pada faktor formalisasi pengembangan Sistem Informasi menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara formalisasi pengembangan Sistem Informasi dengan kinerja SIA baik itu untuk atribut kepuasan pemakai dan pemakaian sistem. Kelima, pengujian yang dilakukan pada faktor ada/tidaknya program pelatihan dan pendidikan pemakai menunjukkan bahwa data program pelatihan dan pendidikan pemakai tidak dapat diolah. Hal ini disebabkan jawaban pada pertanyaan ada tidaknya program pelatihan dan pendidikan Pemakai. Data ini menunjukkan bahwa keseluruhan responden menjawab bahwa terdapat program pelatihan di setiap perusahaan tempat responden bekerja. Keenam, pengujian yang dilakukan pada faktor ada/tidaknya dewan pengarah Sistem Informasi menunjukkan bahwa data dewan pengarah Sistem Infromasi tidak dapat diolah. Hal ini disebabkan jawaban pada pertanyaan ada tidaknya dewan pengarah Sistem Informasi. Data ini menunjukkan bahwa keseluruhan responden menjawab bahwa terdapat dewan pengarah Sistem Informasi di setiap perusahaan tempat responden bekerja. Ketujuh, pengujian yang dilakukan dengan membandingkan kinerja sistem informasi akuntansi atas lokasi departement sistem informasi yang berdiri sendiri dibandingkan dengan yang digabung dengan departement lain menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan kinerja yang signifikan baik untuk variabel kepuasan pemakai dan pemakaian sistem antara lokasi departement sistem informasi yang berdiri sendiri dengan lokasi departement sistem informasi yang di gabung dengan departement lain.
sumber : (www. spicaalmilia.wordpress.com)

Decision Support System

Decision Support System
Pengembangan dan Aplikasi Decission Support System SWS Citarum
Tahun Penelitian 2005Kerjasama penelitian antara Perum Jasa Tirta II (PJT II) dengan Balai Penelitian Agroklimat dan Hidrologi (BALITKLIMAT) telah dimulai sejak periode 1999, melalui kegiatan instalasi 4 stasiun pencatat tinggi muka air otomatik (AWLR, Automatic Water Level Recorder) dan 3 stasiun iklim otomatik (AWS, Automatic Weather Station) pada SWS Citarum. Pada tahun 2002 dilakukan penelitian karakterisasi potensi sumberdaya air untuk produksi air DAS berkelanjutan yang bertujuan untuk menghitung potensi sumberdaya air dan daya tampung air DAS serta merekonstruksi model hubungan hujan-limpasan. Selanjutnya tahun 2003 dilakukan penelitian Pengaruh Perubahan Penutupan Lahan terhadap Aliran Permukaan, Sedimen dan Produksi Air DAS (Balitklimat dan PJT II, 2003) yang bertujuan menyusun rekomendasi jenis penggunaan lahan yang proporsional berdasarkan kondisi fisik DAS dan pengembangan model sedimen.Kerjasama penelitian antara Perum Jasa Tirta II (PJT II) dengan Balai Penelitian Agroklimat dan Hidrologi (BALITKLIMAT) telah dimulai sejak periode 1999, melalui kegiatan instalasi 4 stasiun pencatat tinggi muka air otomatik (AWLR, Automatic Water Level Recorder) dan 3 stasiun iklim otomatik (AWS, Automatic Weather Station) pada SWS Citarum. Pada tahun 2002 dilakukan penelitian karakterisasi potensi sumberdaya air untuk produksi air DAS berkelanjutan yang bertujuan untuk menghitung potensi sumberdaya air dan daya tampung air DAS serta merekonstruksi model hubungan hujan-limpasan. Selanjutnya tahun 2003 dilakukan penelitian Pengaruh Perubahan Penutupan Lahan terhadap Aliran Permukaan, Sedimen dan Produksi Air DAS (Balitklimat dan PJT II, 2003) yang bertujuan menyusun rekomendasi jenis penggunaan lahan yang proporsional berdasarkan kondisi fisik DAS dan pengembangan model sedimen.Tahun 2004 dilakukan penelitian penyusunan Decision Support System untuk Produksi Air Berkelanjutan di SWS Citarum, yang menghasilkan prototipe DSS terdiri dari sistem basis data (biofisik, hidrologi, iklim); Software model debit sesaat dan harian yang terintegrasi dengan database, serta sistem informasi hidrologi SWS Citarum.Pada tahun 2004, sistem basis data dan sistem informasi hidrologi yang dihasilkan hanya menampilkan data dan informasi tiga DAS referensi yaitu DAS Ciherang, Cilalawi dan Cikao. Pada tahun 2005, kegiatan dilanjutkan dengan memperluas cakupan lokasi penelitian, meliputi beberapa DAS dan sub DAS di SWS Citarum Hulu, serta meningkatkan kemampuan teknis staf PJT II dalam penguasaan dan pengembangan DSS Citarum melalui pelaksanaan pelatihan dan magang. Penelitian ini bertujuan untuk Updating sistem basis data hidrologi dan basis data iklim PJT II, memperluas cakupan wilayah penelitian, serta meningkatkan kemampuan staf PJT dalam aplikasi dan pengembangan DSS PJT II.Penelitian dilakukan dalam bentuk desk study, kegiatan lapangan serta magang. Desk Study difokuskan untuk memperbarui DSS Citarum yang telah dibangun pada kegiatan penelitian tahun 2004, serta memperluas cakupan aplikasinya. DSS yang dibangun terdiri dari sistem basis data dan sistem model serta sistem informasi hidrologi. Penelitian lapang terdiri dari penentuan titik koordinat posisi bendung irigasi serta verifikasi lapang tutupan lahan menggunakan GPS (Global Positioning System). Sedangkan magang dilakukan di Balitklimat, berlangsung selama 10 hari, dengan jumlah peserta sebanyak 5 orang. Materi magang meliputi teori dan praktek dengan komposisi 20% dan 80%. Magang praktek akan dilakukan di laboratorium untuk analisis data dan simulasi sedangkan praktek lapangan dilakukan untuk identifikasi kondisi biofisik DAS.Perangkat lunak Decision Support System untuk Produksi Air Berkelanjutan di SWS Citarum, hasil kerjasama penelitian Balitklimat dan PJT II terdiri dari sistem basis data (biofisik, hidrologi, iklim) terbaru; Software model debit sesaat dan harian yang terintegrasi dengan database, serta sistem informasi hidrologi SWS Citarum.Gambar dibawah menampilkan menu pembuka Sistem Informasi PJT II yang terdiri dari menu Halaman Utama, Simulasi debit Harian, Simulasi Debit sesaat, serta menu Tampilan Data Pengamatan.Halaman utama Sistem Informasi PJT II menampilkan informasi karakteristik biofisik SWS Citarum. Pada menu ini dapat ditampilkan peta dasar DAS/sub DAS berbasis Sistem Informasi Geografik (SIG), karakteristik fisiografi DAS/sub DAS, serta informasi perubahan penggunaan lahan. Peta berbasis SIG yang ditampilkan pada menu halaman utama bersifat interaktif, yang dapat menampilkan posisi stasiun pengamatan debit, hujan, iklim dan bendung; waduk; batas administratif; batas DAS/sub DAS; kontur, sungai, jalan, serta bangunan bagi sistem jaringan irigasi wilayah kerja PJT II.Informasi karakteristik fisiografi (geometri dan morfometri) mencakup luas dan keliling DAS, panjang total jaringan sungai, Indeks Gravelius (indeks yang menunjukkan bentuk DAS, 1 berarti bentuk DAS adalah bulat, 1.15 - 1.2 bentuk DAS persegi, 1.8 bentuk DAS sangat memanjang), persegi panjang ekuivalen, serta kerapatan jaringan. Informasi karakteristik fisiografi setiap DAS/sub DAS akan muncul saat pengguna memilih poligon yang merepresentasikan suatu DAS pada tampilan peta berbasis SIG di menu Halaman Utama.Menu simulasi debit harian dikembangkan berdasarkan aplikasi Model GR4J (Perrin, 2002). Untuk mensimulasi debit harian, model GR4J membutuhkan input data hujan harian dan evapotranspirasi potensial (ETP) harian, serta 4 parameter model yang dibangkitkan saat validasi.Menu yang disajikan memberikan pilihan nama DAS/sub DAS yang akan disimulasi debitnya berdasarkan data masukan nilai parameter model, serta data masukan hujan dan evapotranspirasi potensial harian dari beberapa pilihan stasiun hujan dan iklim yang tersimpan dalam sistem basis data. Nilai parameter simulasi dihitung berdasarkan prosedur kalibrasi model GR4J untuk DAS/sub DAS yang telah atau pernah memiliki stasiun pengukuran debit harian. Sedangkan untuk DAS yang tidak memiliki stasiun pengukuran debit, parameter simulasi yang digunakan mengacu pada DAS yang diasumsikan memiliki karakteristik biofisik yang hampir sama.Menu simulasi debit sesaat dikembangkan berdasarkan aplikasi Model H2U modifikasi. Model ini membutuhkan 2 jenis parameter yaitu parameter fungsi transfer dan parameter fungsi produksi. Penentuan parameter fungsi transfer ditetapkan berdasarkan analisis Peta Topografi dan Peta Jaringan Hidrografi, sedangkan penentuan parameter fungsi produksi dilakukan berdasarkan modul perhitungan yang telah tersedia dalam menu model simulasi debit sesaat.Menu tampilan data pengamatan terdiri dari dua pilihan windows yaitu informasi terkait daerah aliran sungai dan informasi terkait waduk. Informasi pada daerah aliran sungai meliputi visualisasi data debit pada outlet DAS, data curah hujan, data debit pada bendung serta data iklim. Informasi-informasi tersebut dapat ditampilkan dalam interval harian, jam-jaman maupun menitan (6 menitan). Data dapat ditampilkan baik berupa tabel maupun grafik.
Dalam keilmuan-keilmuan Geodesi-Geomatika dikenal konsep dasar mengenai Earth Tides atau disebut Pasang Surut Bumi. Pasang Surut Bumi lebih luas daripada pasang surut air laut. Itu disebabkan karena kondisi dan konstelasi posisi-posisi Bumi-Bulan-Matahari. Kutipan berikut dari Kompas 19 Mei 2007 menjelaskan hal tersebut dan akibatnya pada aktivitas manusia di pesisir/pantai, termasuk nelayan.“…Hasil pantauan Stasiun Pasang Surut Bakosurtanal di Sabang, Sibolga, Padang, Cilacap, dan Bali, kemarin, pasang surut normal mencapai 0,5 meter hingga 1 meter. Namun, berdasar pemantauan stasiun Bakosurtanal, gelombang laut tertinggi tercapai Kamis. Ini disebabkan konstelasi bumi, bulan, dan matahari dalam satu garis lurus—ini berulang 18,6 tahun sekali….”, (berita lebih lanjut).Oleh sebab itu, posisi tinggi atau ketinggian di daratan yang diketahui terhadap acuan tinggi yang disebut muka air laut rata-rata (mean sea level, MSL) sangat memerlukan besaran-besaran Earth Tides. Artinya data MSL sesaat sangat tidak tepat untuk dijadikan acuan ketinggian di daratan. (red.)
Sumber :
www.gd.itb.ac.id
Demonstrasi Decision Support SystemTanggal 5 Februari 2008,
bertempat di NAM center dan gedung baru kantor pusat BMG, Jakarta, telah dilaksanakan presentasi konsep serta demonstrasi pengoperasian prototype Decision Support System Ina-TEWS (DSS) dalam kerangka kerja sama GI-TEWS. Acara ini merupakan hari pertama dari program pelatihan System Architecture and Decision Support yang akan berlangsung dari tanggal 5 sampai dengan 8 Februari 2008. Dalam acara ini hadir wakil-wakil dari Ristek, NOAA, LIPI, Lapan, Bakosurtanal, BPPT, ITB dan Depdagri. Pada kesempatan ini Dr. Fauzi (BMG) menyampaikan presentasi mengenai Ina-TEWS, real time monitoring, pelayanan peringatan, road map DSS serta program kerja BMG dalam tahun 2008. Selanjutnya Dr. Ulrich Raape menjelaskan tentang kemajuan pengembangan, konsep operasional serta mendemonstrasikan pengoperasian prototype DSS di gedung baru BMG. Diharapkan jika DSS ini sudah dapat beroperasi secara penuh pada pertengahan tahun 2009, maka seluruh data yang dikirim oleah sensor-sensor baik seismograf, tide gauge, gps, dart buoys serta database tsunami akan terintegrasi, sehingga dapat secara cepat menghasilkan keputusan untuk memberi peringatan tsunami. Hal ini akan sangat membantu mempercepat proses pengambilan keputusan untuk mengeluarkan peringatan tsunami. Terkait dengan rencana peresmian pengoperasian Ina-TEWS pada 12 November 2008, DSS sudah dapat beroperasi walaupun belum optimal.
Sumber :
www.Pirba.ristek.go.id

Artificial Intelegent

Artificial Intelegent
Artificial IntelligenceKecerdasan Buatan (bahasa Inggris: Artificial Intelligence atau AI) didefinisikan sebagai kecerdasan yang ditunjukkan oleh suatu entitas buatan. Sistem seperti ini umumnya dianggap komputer. Kecerdasan diciptakan dan dimasukkan ke dalam suatu mesin (komputer) agar dapat melakukan pekerjaan seperti yang dapat dilakukan manusia. Beberapa macam bidang yang menggunakan kecerdasan buatan antara lain sistem pakar, permainan komputer (games), logika fuzzy, jaringan syaraf tiruan dan robotika.Banyak hal yang kelihatannya sulit untuk kecerdasan manusia, tetapi untuk Informatika relatif tidak bermasalah. Seperti contoh: mentransformasikan persamaan, menyelesaikan persamaan integral, membuat permainan catur atau Backgammon. Di sisi lain, hal yang bagi manusia kelihatannya menuntut sedikit kecerdasan, sampai sekarang masih sulit untuk direalisasikan dalam Informatika. Seperti contoh: Pengenalan Obyek/Muka, bermain Sepakbola. Walaupun AI memiliki konotasi fiksi ilmiah yang kuat, AI membentuk cabang yang sangat penting pada ilmu komputer, berhubungan dengan perilaku, pembelajaran dan adaptasi yang cerdas dalam sebuah mesin. Penelitian dalam AI menyangkut pembuatan mesin untuk mengotomatisasikan tugas-tugas yang membutuhkan perilaku cerdas. Termasuk contohnya adalah pengendalian, perencanaan dan penjadwalan, kemampuan untuk menjawab diagnosa dan pertanyaan pelanggan, serta pengenalan tulisan tangan, suara dan wajah. Hal-hal seperti itu telah menjadi disiplin ilmu tersendiri, yang memusatkan perhatian pada penyediaan solusi masalah kehidupan yang nyata. Sistem AI sekarang ini sering digunakan dalam bidang ekonomi, obat-obatan, teknik dan militer, seperti yang telah dibangun dalam beberapa aplikasi perangkat lunak komputer rumah dan video game. 'Kecerdasan buatan' ini bukan hanya ingin mengerti apa itu sistem kecerdasan, tapi juga mengkonstruksinya.Tidak ada definisi yang memuaskan untuk 'kecerdasan': 1. kecerdasan: kemampuan untuk memperoleh pengetahuan dan menggunakannya 2. atau kecerdasan yaitu apa yang diukur oleh sebuah 'Test Kecerdasan'Sumber :
www.bluefame.com
Artificial Intelligence: AI Qaris Tajudin, Wartawan Koran Tempo Tak ada manusia yang berharap dunia di masa depan akan dikuasai oleh komputer atau AI (artificial intelligence, kecerdasan buatan) seperti dalam The Matrix atau film-film fiksi sains lainnya. Tapi anehnya, para ilmuwan komputer dan mind philosopher berlomba membuat mesin yang mampu berpikir seperti manusia. Riset-riset mereka didanai dan didukung oleh pihak yang dalam film fiksi sains Hollywood akan menjadi musuh utama AI: angkatan bersenjata Amerika Serikat. Menurut Marvin Minsky, ilmuwan komputer dan matematika yang membuat Laboratorium AI di MIT, setidaknya ada dua alasan kenapa para ilmuwan ingin mewujudkan mimpi ini. Pertama, kita yakin mesin cerdas akan berguna. Hal ini didasarkan atas pengalaman kita pada mesin-mesin yang lebih dulu diciptakan untuk meringankan pekerjaan otot manusia. "Begitu otot manusia digantikan oleh mesin pada revolusi industri pertama, otak manusia akan digantikannya pada revolusi kedua," kata Clive Sinclair, penemu dari Inggris. Dalam The Age of Spiritual Machines (1999), futuris Ray Kurzweil meramalkan mesin dengan kemampuan intelijen seperti manusia akan muncul dalam dua dekade mendatang, dan akan merevolusi hampir seluruh aspek kehidupan kita. Saat itu manusia dan mesin menjadi setara. Kurzweil mungkin terlalu optimistis, tapi cukup populer. Sutradara I, Robot, Alex Proyas, meminta semua pemain filmnya untuk membaca buku ini. Kedua, ada "alasan negatif" di baliknya, yaitu kenyataan bahwa konsep tradisional psikologi tidak lagi mampu memberi jawaban terhadap misteri cara kerja otak. Psikologi eksperimental tak pernah lagi memberi jawaban yang meyakinkan terhadap soal-soal, seperti bagaimana manusia mengenali sesuatu? Bagaimana otak kita membuat keputusan? Bagaimana kita menciptakan ide baru? Bagaimana kita belajar dari pengalaman? Semua pertanyaan lain yang terkait dengan cara berpikir, berkesadaran, dan berperasaan. Minsky dan rekan-rekannya berharap kebuntuan itu dapat dipecahkan dengan mempelajari cara komputer berpikir. Intinya, mempelajari komputer untuk mengerti otak manusia. Analoginya begini: "Untuk memahami apa yang membuat burung bisa terbang, Anda bisa melihatnya pada kapal terbang," tulis John Brockman dalam The Third Culture: Beyond the Scientific Revolution. Seabad yang lalu, tak ada orang yang berpikir untuk membuat mesin cerdas. Baru pada 1940-an riset lapangan tentang AI--yang saat itu disebut sebagai cybernetics--dimulai. Lalu ranah ini diisi oleh ilmuwan dari berbagai disiplin, mulai komputer, bahasa, psikologi, hingga ahli saraf. Pada 1950-an komputer modern mulai muncul, dan pembahasan tentang AI bergeliat. Salah satu riset AI awal yang paling populer adalah yang dilakukan oleh John McCarthy di Dartmouth Conference pada 1956. Menurut dia, AI adalah making a machine behave in ways that would be called intelligent if a human were so behaving. Definisi ini mengikuti definisi Alan Turing dalam Computing Machinery and Intelligence (Mind, Oktober 1950). Dengan definisi ini, keduanya seperti menolak kemungkinan terciptanya AI. Pada 1960-an penelitian tentang AI mulai tumbuh. Hal ini dipicu dengan munculnya komputer bermemori besar dan pengolahan data yang lebih cepat. Pada 1970-an mulai banyak tercipta sistem yang berguna. Dan kini, "Komputer kita telah cukup kuat untuk mensimulasikan otak buatan (artificial mind)," kata Minsky dalam Smart Machines. Namun, itu bukan berarti sudah muncul AI yang sempurna (strong AI) dan mampu bekerja seperti otak kita. Problemnya adalah setiap "sistem cerdas" itu hanya mampu untuk menjalankan aplikasi tunggal yang amat khusus (weak AI). Mereka bisa lebih cerdas dari kita pada satu bidang, tapi sama sekali dungu di bidang lain. Contohnya, program komputer untuk bermain catur. Sering kali kecerdasan mereka mampu mempecundangi Garry Kasparov. Di sisi lain ada program komputer untuk menyelesaikan masalah matematika yang bisa membuat ahli matematika seperti Bertrand Russell mati kutu. Tapi masalahnya, program catur tidak dapat mengerjakan soal matematika, demikian juga sebaliknya dengan program matematika. Padahal otak Kasparov bisa mengerjakan soal matematika dan Russell bisa main catur. Kecerdasan pada satu bidang seperti ini tidak cukup untuk mengatakan mereka sebagai kembaran otak manusia. Masalah ini bisa selesai jika berbagai program itu tergabung dalam program utama dan bersinergi. Sayangnya, hingga saat ini belum ada yang bisa membuat program utama seperti itu. Kapasitas memori dan kecepatan prosesor komputer untuk mengolah data mungkin sudah mampu membuat mereka berpikir seperti manusia, tapi tidak ada peranti lunak yang mampu bekerja dengan cara kerja otak kita. Software adalah problem utama yang dihadapi para ahli AI, karena ini terkait langsung dengan kerumitan cara kerja otak manusia. Sebenarnya di sinilah letak perbedaan utama komputer dan otak manusia. Jika komputer hanya punya satu cara untuk menyelesaikan masalah, manusia memiliki berbagai pendekatan. Ada ratusan atau bahkan ribuan prinsip yang dijalankan secara bersamaan oleh otak kita untuk melihat satu hal saja. Itulah kenapa saat bermain kartu kita tidak hanya memikirkan kartu apa yang akan kita buang, tapi juga mirip siapa gambar raja dalam kartu King. Keberagaman inilah yang sebenarnya sering membuat kita kehilangan fokus. Tapi keberagaman juga yang membuat kita istimewa. "Menurut saya, perbedaan paling mencolok adalah program komputer bisa lumpuh total hanya dengan satu kesalahan. Di sisi lain, seorang manusia jika otaknya gagal untuk mengerjakan sesuatu dengan satu cara, ia akan mencari jalan lain. Kita jarang bergantung pada satu metode saja. Kita biasanya mengetahui sejumlah cara berbeda untuk melakukan satu hal, jadi kalau salah satunya gagal, kita masih punya cara lain," tulis Minsky. Kalaupun semua cara yang pernah kita ingat tak berhasil, kita berusaha menciptakan cara baru. Inilah yang disebut dengan "mekanisme belajar". Berbeda dengan komputer yang berhenti ketika terjadi ketidakberesan, otak manusia justru bekerja jika ada ketidakberesan. Rasa ingin tahu manusia mulai tergelitik justru saat ada yang berjalan tidak dengan semestinya. Saat pelayan restoran datang dengan pesanan yang sesuai dengan yang kita pesan, tak ada yang terpikir. Tapi saat pesanan itu tidak sesuai dengan yang kita inginkan, otak kita bertanya, 'kenapa?' 'kok begini sih?' "Anda belajar sesuatu saat ada yang berjalan di luar yang Anda inginkan," kata Roger Schank, ilmuwan komputer dan psikolog kognitif yang menjadi direktur Institute for the Learning Sciences, Northwestern University, dalam Information is Surprises. "Kenormalan" justru membuat kita bosan, karena tak ada ketidakberesan yang bisa kita pelajari. Menurut dia, manusia menginginkan dunia berjalan "dengan semestinya", zonder ketidakberesan. Tapi saat yang semestinya berlaku, manusia menjadi bosan. "Saat orang bilang mereka bosan, yang mereka maksudkan adalah tidak ada yang dapat mereka pelajari. Mereka tak lagi bosan begitu ada sesuatu yang dipelajari," kata Schank. Berdasarkan inilah Frank Rosenblatt pada 1950-an menciptakan mesin yang dinamai Perceptrons. Aspek baru pada skema Rosenblatt adalah membuat mesinnya belajar hanya dari kesalahan. Mesin itu tidak memberi respons saat yang terjadi adalah yang semestinya. Entah kenapa mesin yang masih sederhana ini tidak dikembangkan lebih jauh di masa kini. Belajar, baik dari kesalahan atau yang lainnya, adalah cara otomatis pada otak manusia untuk berkembang. Dengan demikian, AI baru dapat disejajarkan dengan otak manusia jika ia mampu menjadi mesin yang belajar (learning machine), "Tapi bagaimana cara dia belajar?" tanya Schank. "Itu artinya dia (AI) harus membaca New York Times setiap hari. Dia harus bertanya. Harus mengobrol. Tak ada konsep mesin cerdas tanpa itu semua." AI memang bisa diprogram untuk selalu menambah informasi, tapi bagaimana ia menyeleksi informasi apa saja yang harus masuk dan yang tak perlu masuk? Tak mudah menjelaskannya, karena otak manusia memiliki mekanisme yang kompleks dalam mengumpulkan informasi. Manusia menimba informasi, salah satunya adalah untuk survive. Keinginan untuk survive tidak hanya mendorong manusia untuk makan dan mempertahankan diri, tapi juga menimba informasi yang ia perlukan. Ketakutan akan kefanaan, konsep yang tidak dikenal oleh mesin, adalah faktor utama yang mendorong otak kita untuk selalu meng-update diri dan belajar. Oleh karena itu, Schank tidak setuju dengan kurikulum sekolah yang cenderung menuang informasi apa saja ke dalam otak murid. Otak manusia bukan AI yang tak memiliki sistem seleksi dalam menelan data. Otak manusia akan secara otomatis menimba informasi sesuai dengan yang diperlukan dan diinginkannya. Sekolah hanya bertugas menumbuhkan keingintahuan akan informasi, bukan menjejalinya. Mekanisme belajar tentu bukan cuma soal mengumpulkan informasi, tapi juga bagaimana memanggilnya, membuat indeks dari informasi yang dimiliki, mencari informasi yang disimpan, dan menghubungkan antara satu data dan data lainnya. Otak manusia memiliki cara kerja pencarian data yang unik, yang susah disamai oleh AI. Dalam Dynamic Memory, Schank mencoba mengurai misteri otak dalam mengenali dan memanggil memorinya. Konsep dynamic memory inilah yang merupakan pekerjaan rumah Schank. "Kerja terpenting saya adalah bagaimana membuat komputer mengingat informasi seperti cara manusia mengingatnya." Kita mungkin sering memakai fasilitas Find pada komputer atau menggunakan mesin pencari Google untuk mengumpulkan informasi. Untuk menjaring informasi yang kita inginkan, kita harus mengetikkan satu kata kunci (keyword). Dalam hitungan detik, ribuan atau jutaan data yang mengandung kata itu akan muncul di monitor. Otak kita yang lebih pikun dari komputer juga mengenal keyword saat memanggil informasi yang tersimpan. Bedanya, keyword atau indeks di otak kita lebih unik dan kompleks. Untuk mengilustrasikan hal itu, dalam Dynamic Memory Schank menceritakan kisah tentang steak dan cukur rambut. Ia pernah bercerita kepada temannya bahwa istrinya memasak steak tidak sesuai dengan keinginannya, selalu terlalu matang. Tiba-tiba temannya berkata, "Well, itu mengingatkanku pada saat aku dicukur tidak sependek yang kuinginkan, 30 tahun lalu di Inggris." Pertanyaannya, bagaimana masalah potong rambut bisa muncul di saat mereka bicara tentang steak? Bukankah tak ada keyword yang menyatukannya? Apa hubungan antara steak dan barber? Tentu saja ada hubungannya, meski tak kentara. Kedua pengalaman itu terjadi saat kita dilayani dengan sesuatu yang tidak kita inginkan. Keduanya tersimpan dalam indeks yang sama di otak teman Schank, yaitu indeks pelayanan-pelayanan yang tidak sesuai dengan keinginan. Pertanyaan kedua, kenapa teman Schank mengindeks informasi seperti itu? "Jawabnya, karena Anda ingin memahami semesta dan Anda perlu untuk mencocokkan apa yang terjadi saat ini dengan pengalaman masa lalu," tulis Schank. Keinginan inilah yang mungkin susah diformulasikan pada mesin. Ia memilih istilah case-based reasoning untuk pencocokan ini. Ia juga punya teori MOP dan TOP (memory-organization packet dan theme-organization packet) untuk menjelaskan pemberian label pada setiap informasi dalam otak kita. Tema-tema itulah yang akan membuat pengalaman di masa lalu muncul saat kita mengalami kejadian yang mirip di masa kini. Pengalaman, menurut Schank, adalah salah satu pembeda antara manusia dan mesin. Kita tak mungkin mengatakan telah belajar tentang makanan dan minuman hanya dengan membaca artikel kuliner, menonton filmnya, dan menghafal trik-triknya. "Menghafal semua aturan atau mendiskusikan prinsip-prinsip kuliner tidak berguna sama sekali jika kamu tidak makan dan minum," kata Schank. Bahasa adalah obyek penelitian lain para ahli AI. Hampir semua ahli yang bekerja di bidang ini menjadikan bahasa sebagai salah satu titik tolak penelitian. Steven Pinker, psikolog eksperimental di Department of Brain and Cognitive Sciences, MIT, adalah salah satunya. Dalam Language Is a Human Instinct ia menganggap kemampuan berbahasa dalam otak manusia sebagai insting yang tidak mungkin disamai oleh software komputer tercanggih. Untuk sampai pada kesimpulan ini ia menggabungkan ide Noam Chomsky tentang karakter bahasa dan paham Darwinian dalam menjelaskan kemampuan berbahasa manusia. Dalam Aspect of the Theory of Syntax, Chomsky memang mengatakan bahwa bahasa bukan sekadar memori dan bahasa harus dipelajari sebagai sebuah abstrak. Keabstrakan bahasa inilah yang sulit dimengerti oleh komputer yang berpikir eksak (pasti). Kalimat "John menyukai buku" tidak harus berarti John suka membaca buku. Bisa saja John memang menyukai buku, tapi tak pernah membacanya. Itulah kenapa otak Sutardji Calzoum Bachri dapat mendestruksi arti kata-kata dalam puisi-puisinya di O, Amuk, Kapak. Sampai saat ini banyak halangan dalam penciptaan otak sintetis yang belum dapat dipecahkan oleh para ahli. Itulah kenapa, setelah 20 tahun bekerja di bidang ini Schank masih menganggap penciptaan strong AI adalah sesuatu yang hampir mustahil. "Tak ada jalan pintas menuju ke sana.... Waktu yang saya perlukan untuk mewujudkan hal itu lebih lama dari umur saya sendiri."
Sumber :
www.korantempo.com
{ Oktober 30, 2007 @ 2:42 pm } · { Uncategorized } { Tags: Uncategorized }1. Definisi Kecerdasan BuatanIstilah kecerdasan buatan sebenarnya berasal dari bahasa Inggris: “Artificial Intelligence”. Jika diartikan tiap kata, artificial artinya buatan, sedangkan intelligence adalah kata sifat yang berarti cerdas. Jadi artificial intelligence maksudnya adalah sesuatu buatan atau suatu tiruan yang cerdas. Cerdas di sini kemungkinan maksudnya adalah kepandaian atau ketajaman dalam berpikir, seperti halnya otak manusia dalam menyelesaikan suatu masalah.Secara awam kecerdasan buatan diterjemahkan sebagai sebuah sistem saraf, atau sensor atau otak yang diciptakan oleh sebuah mesin. Sebenarnya kecerdasan buatan merujuk kepada mesin yang mampu untuk berpikir, menimbang tindakan yang akan diambil, dan mampu mengambil keputusan seperti yang dilakukan oleh manusia.Alan Turing, ahli matematika berkebangsaan Inggris yang dijuluki bapak komputer modern dan pembongkar sandi Nazi dalam era Perang Dunia II tahun 1950, dia menetapkan definisi Artificial Intelligent : Jika komputer tidak dapat dibedakan dengan manusia saat berbincang melalui terminal komputer, maka bisa dikatakan komputer itu cerdas, mempunyai intelegensi.Kecerdasan buatan itu sesuatu yang diciptakan oleh manusia, untuk menggantikan manusia. Jadi bisa jadi kecerdasan buatan itu merupakan suatu ancaman.Walau pun menyadari bahwa kecerdasan buatan bisa jadi adalah suatu ancaman untuk manusia, tapi manusia masih saja mengembangkan apa yang disebut dengan kecerdasan buatan. Manusia masih saja mencoba mengembangkan / mendapatkan sesuatu (teknologi) yang baru, yang dapat berpikir seperti manusia. Hal ini terjadi karena adanya ketidakpuasan dalam diri manusia, manusia ingin mendapatkan sesuatu dengan cara yang lebih mudah. Lagipula memang ada keterbatasan-keterbatasan dalam diri manusia, seperti otak manusia yang hanya mampu berpikir dengan frekuensi kira-kira 100 Hz dan karena manusia mempunyai rasa capai. Bandingkan dengan komputer sekarang yang mampu mengolah data dengan frekuensi 4 GHz. Komputer juga tidak mempunyai rasa capai walau pun harus mengolah data yang sama berulang-ulang.Walaupun terasa sangat futuristik dan terlihat berbahaya, karena mesin nantinya akan memiliki kecerdasan dan emosi, para pakar AI menganggap pengembangan disiplin ilmu ini penting karena bisa diterapkan di Internet nantinya. Misalnya saja, di masa mendatang ketika Anda mengunjungi sebuah situs agen perjalanan, maka di layar komputer akan muncul wajah seorang wanita yang sangat sempurna karena semuanya berupa ciptaan komputer. Uniknya, Anda akan mampu bercakap-cakap dengan wanita artifisial ini, seperti layaknya Anda berbicara dengan staff wanita beneran di counter biro perjalanan. Kalau ini tercapai, maka pelayanan dapat diberikan 100% online, dengan akurasi yang sangat tinggi. Terutama dari konsistensi, keramahan, kecepatan dan akurasi pelayanan. Lain kalau kita menggunakan staff manusia asli yang konsistensinya tidak bisa akurat karena terpengaruh kepada kondisi fisik dan emosi saat itu.Saat ini sudah banyak teknologi kecerdasan buatan yang dihasilkan dan dipakai oleh manusia. Misalnya saja pada robot Asimo yang bisa menari dan berjalan, atau pada permainan komputer yang dirancang untuk membuat manusia berpikir keras untuk mengalahkannya. Contoh lain ada di industri otomotif. Adanya teknologi komputer yang mampu mengolah data dengan cepat dipakai untuk memberikan peringatan pada pengemudi mobil untuk menghindari terjadinya tabrakan.
2. PENGEMBANGAN PERANGKAT LUNAK KECERDASAN BUATAN DENGAN MENGGUNAKAN METODE FORWARD CHAINING (Studi Kasus Mendiagnosa Keadaan Bayi Dalam Kandungan)Kecerdasan buatan adalah kemampuan komputer untuk berpikir dengan intelegensia. Ini tercapai dengan mempelajari bagaimana manusia mengingat dan berpikir ketika sedang mengambil keputusan dan memecahkan masalah.Kecerdasan buatan yang dibangun mempunyai beberapa komponen yang saling berhubungan untuk membangun sistem yaitu basis pengetahuan, mesin inferensi, antarmuka pemakai. Persoalan yang dipecahkan dalam sistem ini adalah bagaimana cara menyusun aturan yang terdiri atas beberapa premis dan konklusi dari fakta-fakta yang tersedia, sehingga dihasilkan suatu solusi, dengan menggunakan mesin inferensi yaitu forward chaining, selain itu sistem ini juga menggunakan suatu penalaran knowledge base yaitu penalaran rule-based reasoning.Penelitian ini membahas tentang pendiagnosaan keadaaan bayi dalam kandungan yang menggunakan teknik inferensi forward chaining, yang memulai penalarannya mulai dari sekumpulan fakta-fakta menuju sebuah hipotesa (solusi). Sistem yang dikembangkan memberikan keleluasaan pada perekayasa pengetahuan untuk memasukkan himpunan aturan pada basis pengetahuan dan diperolehnya suatu solusi berdasarkan basis pengetahuan yang ada.
3. Issue tentang Artificial IntelligentKecerdasan buatan dibuat dengan maksud untuk meningkatkan sistem dasar komputer sehingga menyerupai ciri manusia, yaitu kemampuan untuk berpikir atau menjawab. Ada beberapa contoh dari kecerdasan buatan yang dijelaskan dalam bab ini.Kemampuan komputer memproses bahasa dasar adalah salah satu contoh dari kecerdasan buatan. Apabila dulu kita harus mempelajari perintah-perintah tertentu untuk berkomunikasi dengan komputer, sekarang ini kita sudah tidak perlu lagi untuk mempelajarinya. Hal ini dikarenakan komputer sekarang sudah dilengkapi dengan kemampuan untuk memahami bahasa kita, sehingga kita dapat lebih mudah untuk berkomunikasi dengan komputer.Kecerdasan buatan lain yang memudahkan interaksi kita dengan computer adalah kemampuan untuk mengenali cara berbicara atau kata-kata yang digunakan oleh manusia. Kita hanya perlu untuk mengucapkan perintah secara lisan kepada computer untuk melakukan suatu program, daripada dengan cara biasa yaitu dengan mengetiknya, dan nantinya computer juga akan balik menjawab perintah tersebut Kemampuan ini dapat dihubungkan dengan sebuah sistem pengenal karakter optikal (OCR), yang susunan dari OCR dapat mengenali kalimat dari dokumen yang telah dicetak. Komputer juga sekarang telah dilengkapi dengan sistem ahli, yang merupakan penasihat dasar dari sebuah computer, sehingga computer dapat membantu dalam bidang medis, pabrik, dan bidang-bidang lain. Inti dari sistem ahli ini adalah pengetahuan yang berasal dari pengalaman manusia. Sumber penambahan informasi dapat mencakup buku dan dokumen lain. Kecerdasan buatan terakhir yang dijelaskan di chapter ini adalah gambar computer. Gambar computer diartikan sebagai sebuah gambar yang diambil dengan menggunakan kamera yang kemudian diolah di computer. Dalam hal ini, kamera dan computer merupakan alat yang memiliki fungsi yang sama seperti fungsi mata dan otak manusia.Berbagai macam teknologi juga telah ditingkatkan untuk mengembangkan kendaraan otomatis yang dalam penggunaannya dapat berfungsi tanpa bantuan manusia. Contoh fungsi dari kendaraan otomatis ini adalah untuk menjelajah angkasa luar, seperti menjelajahi planet-planet. Kendaraan ini mungkin dibuat dari rangkaian komponen hardware dan sebuah program kecerdasan buatan yang dapat memproses informasi. Gabungan dari software computer dan hardware ini juga dapat membuat kendaraan yang bisa digunakan di bumi.Kemajuan dari sistem kecerdasan buatan ini dapat menimbulkan dampak psikologis pada manusia. Bagi kelompok yang menentang adanya kecerdasan buatan percaya bahwa dengan adanya kecerdasan buatan, akan terdapat beberapa dampak dalam kehidupan manusia. Mesin-mesin yang memiliki kecerdasan buatan dapat mengurangi jutaan kesempatan kerja manusia. Selain itu juga terdapat ketakutan bahwa sistem kecerdasan buatan ini, termasuk robot, mengurangi kita sebagai manusia. Sistem dasar dari kecerdasan buatan ini juga telah meningkatkan ketakutan bahwa mesin-mesin dapat menambah jumlah kerusakan.Pendukung dari kecerdasan buatan telah menyatakan argumen balasan bahwa alat dari bidang kecerdasan buatan hanyalah sebuah alat yang tidak akan menggantikan fungsi manusia. Kecerdasan buatan tidak akan mengurangi kemanusiaan kita, melainkan akan meningkatkan kehidupan kita, contohnya adalah penderita kanker akan mendapat keuntungan, dan pengenalan kalimat dan sistem perpaduan dapat membantu seorang individu untuk mengkontrol lingkungannya.4. Memanusiakan Chatbot dengan Kecerdasan BuatanJAKARTA – Pehobi chatting –bercakap-cakap di dunia maya— sebaiknya jangan terlalu serius menanggapi lawan bicara. Siapa tahu kenalan baru itu adalah chatbot, yakni robot yang khusus diprogram untuk chatting. Chatbot merupakan program khusus dalam komputer yang berfungsi sebagai penjawab sapaan di ruang chatting. Di masa mendatang, program serupa ini menjadi kembangan dari artificial intelligent (AI) alias kecerdasan buatan.Jabberwacky, sebuah chatbot yang tinggal di dalam hard disk komputer. Ia mampu menggunakan kata-kata pelesetan, humor, kadang juga kata makian, bahkan juga menjadi pembicara yang konfrontatif. Kelebihan Jabberwacky dari chatbot lain adalah: makin banyak ia bercakap dengan para chatter manusia, makin banyak hal yang dipelajarinya. Chatbot jenius ini adalah temuan Rollo Carpenter, finalis Loebner Prize asal Inggris.Loebner Prize merupakan penghargaan khusus di bidang AI tingkat dunia yang dimulai sejak 1990. Penghargaan ini diberikan pada mereka yang mampu meloloskan diri dari Turing Test, yakni suatu cara menguji mesin untuk mengetahui apakah mesin itu cerdas atau tidak. Jabberwacky akan bergabung dengan delapan finalis internasional lain pada Oktober mendatang untung memperebutkan medali emas. Seperti semua finalis lain, chatbot ini akan menjalani Turing Test yang metodenya ditemukan oleh Alan Turing. Dari sini akan diketahui apakah chatbot ini benar-benar pintar seperti halnya AI lain.Carpenter mendesain Jabberwacky semirip mungkin dengan manusia. Memang bukan dari bentuk fisiknya, melainkan dari caranya bicara dan bercakap-cakap. Chatbot ini mempelajari cara bicara manusia, mempelajari beberapa bahasa, hingga memahami konteks percakapan dan aturannya.
5. KECERDASAN BUATAN =Menduakan Otak Manusia ?????????????????Kecerdasan Buatan (artificial intelligent) adalah penggunaan komputer, yang mana meniru atau menduakan fungsi otak manusia. Sistem Kecerdasan buatan tidak diharap menggantikan manusia sebagai pembuta keputusan, tetapi sebaliknya mereplikakan butirannya, dengan keadaan jelas. Umumnya bidang kecerdasan buatan termasuklah beberapa jenis komponennya. Ianya diringkaskan seperti berikut: Sistem pakar, Robotik, Sistem penglihatan, Sistem Pemprosesan Bahasa Tabii, Sistem Pembelajaran dan Rangkaian neural. Jadi, gimana kita sebagai manusia yang dianugrahi sumber pemikiran ” OTAK”? Mau di duakan??? Plis deh,,,,,,,,,,
Sumber :
www.trihariyono.wordpress.com

Enterprise Resources System

Enterprise Resources Planning
ERP Infrastruktur Vital sebuah Industri
Author:
Administrator Published: 6th September 2006Category: Sistem Informasi ManajemenSistem ERP adalah sebuah terminologi yang diberikan kepada sistem informasi yang mendukung transaksi atau operasi sehari-hari dalam pengelolaan sumber daya perusahaan. Sumber daya tersebut meliputi dana, manusia, mesin, suku cadang, waktu, material dan kapasitas.Sistem ERP dibagi atas beberapa sub-Sistem yaitu Sistem Financial, Sistem Distribusi, Sistem Manufaktur, dan Sistem Human Resource. Contoh sistem ERP komersial antara lain: SAP, Baan, Oracle, IFS, Peoplesoft dan JD.Edwards. Selain itu salah satu sistem ERP open source yang populer sekarang ini adalah Compiere.Untuk mengetahui bagaimana Sistem ERP dapat membantu Sistem operasi bisnis kita, mari kita perhatikan suatu kasus kecil seperti di bawah ini:Katakanlah kita menerima order untuk 100 unit Produk A. Sistem ERP akan membantu kita menghitung jumlah barang yang dapat diproduksi berdasarkan segala keterbatasan sumber daya yang ada saat ini.Apabila sumber daya tersebut tidak mencukupi, Sistem ERP dapat menghitung berapa lagi sumberdaya yang diperlukan, sekaligus membantu kita dalam proses pengadaannya. Ketika hendak mendistribusikan hasil produksi, Sistem ERP juga dapat menentukan cara pemuatan dan pengangkutan yang optimal kepada tujuan yang ditentukan pelanggan. Dalam proses ini, tentunya segala aspek yang berhubungan dengan keuangan akan tercatat dalam Sistem ERP tersebut termasuk menghitung berapa biaya produksi dari 100 unit tersebut.
Sumber : www. ilmukomputer.com
ERP (Enterprise Resource Planning) System adalah sistem informasi yang diperuntukkan bagi perusahan manufaktur maupun jasa yang berperan mengintegrasikan dan mengotomasikan proses bisnis yang berhubungan dengan aspek operasi, produksi maupun distribusi di perusahaan bersangkutan. ERP berkembang dari Manufacturing Resource Planning (MRP II) dimana MRP II sendiri adalah hasil evolusi dari Material Requirement Planning (MRP) yang berkembang sebelumnya. Sistem ERP secara modular biasanya mengangani proses manufaktur, logistik, distribusi, persediaan (inventory), pengapalan, invoice dan akunting perusahaan. Ini berarti bahwa sistem ini nanti akan membantu mengontrol aktivitas bisnis seperti penjualan, pengiriman, produksi, manajemen persediaan, manajemen kualitas dan sumber daya manusia.ERP sering disebut sebagai Back Office System yang mengindikasikan bahwa pelanggan dan publik secara umum tidak dilibatkan dalam sistem ini. Berbeda dengan Front Office System yang langsung berurusan dengan pelanggan seperti sistem untuk e-Commerce, Costumer Relationship Management (CRM), e-Government dan lain-lain.Modul ERPSecara modular, software ERP biasanya terbagi atas modul utama yakni Operasi serta modul pendukung yakni Finansial dan Akunting serta Sumber Daya Manusia:
1. Modul OperasiGeneral Logistics, Sales and Distribution, Materials Management, Logistics Execution, Quality Management, Plant Maintenance, Customer Service, Production Planning and Control, Project System, Environment Management.
2. Modul Financial & AkuntansiGeneral Accounting, Financial Accounting, Controlling, Investment Management, Treasury, Enterprise Controlling.
3. Modul Sumber Daya ManusiaPersonnel Management, Personnel Time Management, Payroll, Training and Event Management, Organizational Management, Travel Management.Manfaat Menggunakan ERP
Berikut ini adalah sebagian kecil manfaat dengan diaplikasikannya ERP bagi perusahaan:
1. Integrasi data keuanganUntuk mengintegrasikan data keuangan sehingga top management bisa melihat dan mengontrol kinerja keuangan perusahaan dengan lebih baik.
2. Standarisasi Proses OperasiMenstandarkan proses operasi melalui implementasi best practice sehingga terjadi peningkatan produktivitas, penurunan inefisiensi dan peningkatan kualitas produk.
3. Standarisasi Data dan InformasiMenstandarkan data dan informasi melalui keseragaman pelaporan, terutama untuk perusahaan besar yang biasanya terdiri dari banyak business unit dengan jumlah dan jenis bisnis yg berbeda-beda.Tips memilih ERP
Berikut adalah beberapa tips bagaimana cara memilih ERP yang sesuai bagi perusahaan:
1. Knowledge & ExperienceKnowledge adalah pengetahuan tentang bagaimana cara sebuah proses seharusnya dilakukan, jika segala sesuatunya berjalan lancer. Experience adalah pemahaman terhadap kenyataan tentang bagaimana sebuah proses seharusnya dikerjakan dengan kemungkinan munculnya permasalahan. Knowledge tanpa experience menyebabkan orang membuat perencanaan yang terlihat sempurna tetapi kemudian terbukti tidak bisa diimplementasikan. Experience tanpa knowledge bisa menyebabkan terulangnya atau terakumulasinya kesalahan dan kekeliruan karena tidak dibekali dengan pemahaman yg cukup.
2. Selection MethodologyAda struktur proses seleksi yang sebaiknya dilakukan untuk memenuhi kebutuhan perusahaan dalam memilih ERP. Proses seleksi tidak harus selalu rumit agar efektif. Yang penting organized, focused dan simple. Proses seleksi ini biasanya berkisar antara 5-6 bulan sejak dimulai hingga penandatanganan order pembelian ERP. Berikut ini adalah akivitas yg sebaiknya dilakukan sebagai bagian dari proses pemilihan software ERP: analisa strategi bisnis, analisa sumber daya manusia, analisa infrastruktur dan analisa software.
3. Analisa Business Strategy- Bagaimana level kompetisi di pasar dan apa harapan dari customers?- Adakah keuntungan kompetitif yang ingin dicapai?- Apa strategi bisnis perusahaan dan objectives yang ingin dicapai?- Bagaimana proses bisnis yang sekarang berjalan vs proses bisnis yang diinginkan?- Adakah proses bisnis yang harus diperbaiki?- Apa dan bagaimana prioritas bisnis yang ada dan adakah rencana kerja yang disusun untuk mencapai objektif dan prioritas tersebut?- Target bisnis seperti apa yang harus dicapai dan kapan?
4. Analisa People- Bagaimana komitment top management thd usaha untuk implementasi ERP?- Siapa yg akan mengimplementasikan ERP dan siapa yg akan menggunakannya?- Bagaimana komitmen dari tim implementasi?- Apa yg diharapkan para calon user thd ERP?- Adakah ERP champion yg menghubungkan top management dgn tim?- Adakah konsultan dari luar yg disiapkan untuk membantu proses persiapan?
5. Analisa Infrastruktur- Bagaimanakah kelengkapan infrastruktur yang sudah ada (overall networks, permanent office systems, communication system dan auxiliary system)?- Seberapa besar budget untuk infrastruktur?- Apa infrastruktur yang harus disiapkan?
6. Analisa Software- Apakah software tsb cukup fleksibel dan mudah disesuaikan dengan kondisi perusahaan?- Apakah ada dukungan service dari supplier, tidak hanya secara teknis tapi juga untuk kebutuhan pengembangan sistem di kemudian hari?- Seberapa banyak waktu untuk implementasi yg tersedia?- Apakah software memiliki fungsi yang bisa meningkatkan proses bisnis perusahaan?Implementasi ERP
Berikut ini adalah ringkasan poin-poin yg bisa digunakan sebagai pedoman pada saat implementasi ERP:
1. ERP adalah bagian dari infrastruktur perusahaan, dan sangat penting untuk kelangsungan hidup perusahaan. Semua orang dan bagian yang akan terpengaruh oleh adanya ERP harus terlibat dan memberikan dukungan terhadap jalannya ERP.
2. ERP ada untuk mendukung fungsi bisnis dan meningkatkan produktivitas, bukan sebaliknya. Tujuan implementasi ERP adalah untuk meningkatkan daya saing perusahaan.
3. Pelajari kesuksesan dan kegagalan implementasi ERP, jangan berusaha membuat sendiri praktek implementasi ERP. Ada metodologi tertentu untuk implementasi ERP yang lebih terjamin keberhasilannya.Penyebab Gagalnya ERP- Waktu dan biaya implementasi yang melebihi anggaran- Pre-implementation tidak dilakukan dengan baik- Strategi operasi tidak sejalan dengan business process design dan pengembangannya- Orang-orang tidak disiapkan untuk menerima dan beroperasi dengan sistem yang baruTanda-tanda kegagalan ERPKegagalan ERP biasanya ditandai oleh adanya hal-hal sebagai berikut:- Kurangnya komitmen top management- Kurangnya pendefinisian kebutuhan perusahaan (analisa strategi bisnis)- Cacatnya proses seleksi software (tidak lengkap atau terburu-buru memutuskan)- Kurangnya sumber daya (manusia, infrastruktur dan modal)- Kurangnya ‘buy in’ sehingga muncul resistensi untuk berubah dari para karyawan- Kesalahan penghitungan waktu implementasi- Tidak cocoknya software dgn business process- Kurangnya training dan pembelajaran- Cacatnya project design & management- Kurangnya komunikasi- Saran penghematan yang menyesatkanSoftware ERP
BeRikut adalah software ERP yang saat ini beredar, baik yang berlisensi bayar maupun open source:
- SAP
- JDE
- BAAN
- MFGPro
- Protean
- Compiere
- Adempiere
Sumber :
http://rsteve.sitompul.net
Modul Enterprise Resource Planning (ERP)
Sistem ERP adalah sebuah terminologi yang secara de facto adalah aplikasiyang dapat mendukung transaksi atau operasi sehari-hari yang berhubungandengan pengelolaan sumber daya sebuah perusahaan, seperti dana, manusia,mesin, suku cadang, waktu, material dan kapasitas.Sistem ERP dibagi atas beberapa sub-sistem yaitu sistem Financial, sistemDistribusi, sistem Manufaktur, sistem Maintenance dan sistem Human Resource.Untuk mengetahui bagaimana sistem ERP dapat membantu sistem operasi bisniskita, mari kita perhatikan suatu kasus kecil seperti di bawah ini:Katakanlah kita menerima order untuk 100 unit Produk A. Sistem ERP akanmembantu kita menghitung berapa yang dapat diproduksi berdasarkan segalaketerbatasan sumber daya yang ada pada kita saat ini. Apabila sumber dayatersebut tidak mencukupi, sistem ERP dapat menghitung berapa lagi sumberdayayang diperlukan, sekaligus membantu kita dalam proses pengadaannya. Ketikahendak mendistribusikan hasil produksi, sistem ERP juga dapat menentukancara pemuatan dan pengangkutan yang optimal kepada tujuan yang ditentukanpelanggan. Dalam proses ini, tentunya segala aspek yang berhubungan dengankeuangan akan tercatat dalam sistem ERP tersebut termasuk menghitung berapabiaya produksi dari 100 unit tersebut.Dapat kita lihat bahwa data atau transaksi yang dicatat pada satufungsi/bagian sering digunakan oleh fungsi/bagian yang lain. Misalnya daftarproduk bisa dipakai oleh bagian pembelian, bagian perbekalan, bagianproduksi, bagian gudang, bagian pengangkutan, bagian keuangan dansebagainya. Oleh karena itu, unsur 'integrasi' itu sangat penting danmerupakan tantangan besar bagi vendor vendor sistem ERP.Pada prinsipnya, dengan sistem ERP sebuah industri dapat dijalankan secaraoptimal dan dapat mengurangi biaya-biaya operasional yang tidak efisienseperti biaya inventory (slow moving part, dll.), biaya kerugian akibat'machine fault' dll. Dinegara-negara maju yang sudah didukung olehinfrastruktur yang memadaipun, mereka sudah dapat menerapkan konsep JIT(Just-In-Time). Di sini, segala sumberdaya untuk produksi benar-benardisediakan hanya pada saat diperlukan (fast moving).Termasuk juga penyedian suku cadang untuk maintenance, jadwal perbaikan(service) untuk mencegah terjadinya machine fault, inventory, dsb.Bagi industri yang memerlukan efisiensi dan komputerisasi dari segipenjualan, maka ada tambahan bagi konsep ERP yang bernama Sales ForceAutomation (SFA). Sistem ini merupakan suatu bagianpenting dari suatu rantai pengadaan (Supply Chain) ERP. Pada dasarnya, Salesyang dilengkapi dengan SFA dapat bekerja lebih efisien karena semuainformasi mengenai suatu pelanggan atauproduk yang dipasarkan ada di databasenya.Khusus untuk industri yang bersifat assemble-to-order atau make-to-orderseperti industri pesawat, perkapalan, automobil, truk dan industri beratlainnya, sistem ERP dapat juga dilengkapi dengan Sales Configuration System(SCS). Dengan SCS, Sales dapat memberikan penawaran serta proposal yangdilengkapi dengan gambar, spesifikasi, harga berdasarkan keinginan/pesananpelanggan. Misalnya saja seorang calon pelanggan menelpon untuk mendapatkantawaran sebuah mobil dengan berbagai kombinasi yang mencakup warna biru,roda racing, mesin V6 dengan spoiler sport dan lain-lain. Dengan SCS, Salesdapat menberikan harga mobil dengan kombinasi tersebut pada saat itu juga.Sistem ERP dirancang berdasarkan proses bisnis yang dianggap 'best practice'proses umum yang paling layak di tiru. Misalnya, bagaimana proses umumyang sebenarnya berlaku untuk pembelian (purchasing), penyusunan stok digudang dan sebagainya.Untuk mendapatkan manfaat yang sebesar-besarnya dari sistem ERP, makaindustri kita juga haurs mengikuti 'best practice process' (proses umumterbaik) yang berlaku. Disini banyak timbul masalah dan tantangan bagiindustri kita di Indonesia. Tantangannya misalnya, bagaimana merubah proseskerja kita menjadi sesuai dengan proses kerja yang dihendaki oleh sistemERP, atau, merubah sistem ERP untuk menyesuaikan proses kerja kita.Proses penyesuaian itu sering disebut sebagai proses Implementasi. Jikadalam kegiatan implementasi diperlukan perubahan proses kerja yang cukupmendasar, maka perusahaan ini harus melakukan Business Process Reengineering(BPR) yang dapat memakan waktu berbulan bulan.Sebagai kesimpulan, sistem ERP adalah paket software yang sangat dibutuhkanuntuk mengelola sebuah industri secara efisien dan produktif. Secara defacto, sistem ERP harus menyentuh segala aspek sumber daya perusahaan yaitudana, manusia, waktu, material dan kapasitas. Untuk lebih meningkatkan kemapuanSistem ERP perlu ditambah modul CRM, SRM, PLM dan juga Project Management.Karena sistem ERP dirancang dengan suatu proses kerja 'best practice',maka hal ini merupakan tantangan implementor ERP untuk melakukan implementasisistem ERP di suatu perusahaan.
Modul-modul Enterprise Resource Planning (ERP) Systems :
1. Item Master Management (IMM)
2. Bill Of Material (BOM)
3. Demand Management (DM)
4. Sales and Order Management (SOM)
5. Master Production Scheduling (MPS)
6. Material Requirements Planning (MRP)
7. Capacity Requirement Planning
8. Inventory Mangement (INV)
9. Shop Floor Control (SFC)
10. Purchasing Management (PUR)
11. General Ledger (GL)
12. Account Payable (AP)
13. Account Receivable (AR)
14. Cost Control (CO)
15. Financial Reporting (FIR)
Sumber :
http://rsteve.sitompul.net

Transaction Process System

Transaction Process System
Transaction Processing System (TPS)
Transaction Processing System adalah aplikasi sistem informasi yang mengambil atau mengumpulkan dan mengolah data tentang transaksi suatu proses bisnis. Salah satu dimensi TPS adalah data maintenance yang dapat meng-update data yang diperlukan. TPS dapat terus berkembang karena perkembangan dunia bisnis akan terus berkembang. Perkembangan bisnis akan memerlukan sistem yang terus berkembang pula. Perkembangan bisnis ini disebut Bisnis process redesign yaitu sebuah study, analisis, dan redesign proses bisnis yang mendasar untuk mengurnagi ongkos atau meningkatkan nilai tambah yang dihasilkan.Contoh TPS adalah:Airline reservationBank depositCustomer returnsInventory procurementOrder processingPayroll
Sumber : ANALISIS & PERANCANGAN SISTEM INFORMASI, Program Studi Teknik IndustriFakultas Teknologi Industri Institut Teknologi Bandung

Transaction Processing System (TPS)
Transaction Processing System (TPS) adalah sistem informasi yang terkomputerisasi yang dikembangkan untuk memproses data-data dalam jumlah besar untuk transaksi bisnis rutin seperti daftar gaji dan inventarisasi. TPS menghapus rasa bosan saat melakukan transaksi operasional sekaligus mengurangi waktu, meskipun orang masih harus memasukkan data ke sistem komkputer secara manual.Transaction Processing System merupakan sistem tanpa batas yang memungkinkan organisasi berinteraksi dengan lilngkungan eksternal. Karena manajer melihat data-data yang dihasilkan oleh TPS untuk memperbaharui informasi setiap menit mengenai apa yang terjadi di perusahaan mereka. Dimana hal ini sangat peting bagi operasi bisnis dari hari ke hari agar sistem-sistem ini dapat berfungsi dengan lancar dan tanpa interupsi sama sekali.
Sumber :
www.google.com (jbptgunadarma-gdl-course-2005-timpengaja-412)

Transaction processing system
A Transaction Processing System (TPS) is a type of information system. TPSs collect, store, modify, and retrieve the transactions of an organization. A transaction is an event that generates or modifies data that is eventually stored in an information system. To be considered a transaction processing system the computer must pass the ACID test.From a technical perspective, a Transaction Processing System (or Transaction Processing Monitor) monitors transaction programs, a special kind of programs. The essence of a transaction program is that it manages data that must be left in a consistent state. E.g. if an electronic payment is made, the amount must be either both withdrawn from one account and added to the other, or none at all. In case of a failure preventing transaction completion, the partially executed transaction must be 'rolled back' by the TPS. While this type of integrity must be provided also for batch transaction processing, it is particularly important for online processing: if e.g. an airline seat reservation system is accessed by multiple operators, after an empty seat inquiry, the seat reservation data must be locked until the reservation is made, otherwise another user may get the impression a seat is still free while it is actually being booked at the time. Without proper transaction monitoring, double bookings may occur. Other transaction monitor functions include deadlock detection and resolution (deadlocks may be inevitable in certain cases of cross-dependence on data), and transaction logging (in 'journals') for 'forward recovery' in case of massive failures.Transaction Processing is not limited to application programs. The 'journaled file system' provided with IBMs AIX Unix operating system employs similar techniques to maintain file system integrity, including a journal.
Sumber :
www.wikipedia.com